Uang, Masalah, dan Kehidupan
Bagaimana Kehidupan dipersulit oleh Ekonomi dan Birokrasi
Uang, Masalah, dan Kehidupan
Original source by Ardianto Satriawan: Read the original thread on X.com
👨💼 Pak TU Kampus: "Gimana Mutia?"
👩🎓 Mutia: "Saya mau apply beasiswa, saya kesulitan bayar UKT."
👨💼 Pak TU Kampus: "Minta surat keterangan tidak mampu ke RT ya."
👩🎓 Mutia: "Baik Pak."
👩🎓 Mutia: "Pak RT, saya mau minta surat keterangan tidak mampu."
👴 Pak RT: "Kamu bukannya Mutia, anaknya Pak Solihin, dosen di kampus itu?"
👩🎓 Mutia: "Iya Pak."
👴 Pak RT: "Lah, penghasilannya bukannya lumayan?"
👩🎓 Mutia: "Bapak lagi tugas belajar Pak, jadi dapetnya cuma gaji pokok doang."
👴 Pak RT: "Oh gitu, ini saya kasih surat pengantar, sekarang yang ngeluarin SKTM Dinas Sosial."
👩🎓 Mutia: "Pak Dinas Sosial, minta SKTM."
👮♂️ Dinas Sosial: "Ada surat keterangan dari RT sama slip gaji terakhir orang tua?"
👩🎓 Mutia: "Ini Pak."
👮♂️ Dinas Sosial: "Lah, ini gaji Bapak kamu gede?"
👩🎓 Mutia: "Tapi Bapak baru mulai Tugas Belajar Pak, jadi yang di situ tunjangan sama sertifikasi masih lengkap."
👮♂️ Dinas Sosial: "Wah, saya gak bisa ngeluarin SKTM kalau gitu, soalnya di sini penghasilan Bapak masih di atas syarat."
👩🎓 Mutia: "Waduh, terus gimana ini Pak?"
👮♂️ Dinas Sosial: "Coba ke bank sama Bapak, siapa tahu bisa ada pinjaman."
👨💼 Pak Solihin (Bapak): "Bu CS Bank, saya mau ajukan pinjaman buat bayar UKT anak saya."
👩💼 CS Bank: "Baik Pak, saya cek dulu."
(Hening sejenak...)
👩💼 CS Bank: "Pak Solihin, setelah kita cek penghasilan, kita gak bisa kasih pinjaman."
👨💼 Pak Solihin: "Kenapa Bu?"
👩💼 CS Bank: "Mohon maaf Pak, resiko gagal bayarnya tinggi."
👨💼 Pak Solihin: "Waduh, terus gimana ini Bu?"
👩🎓 Mutia: "Pak TU kampus, saya gak bisa dapet SKTM Pak."
👨💼 Pak TU Kampus: "Udah coba pinjam bank?"
👩🎓 Mutia: "Gak bisa Pak, penghasilan Bapak saya gak cukup."
👨💼 Pak TU Kampus: "Coba ini, perusahaan fintech yang kerjasama sama kampus."
👩🎓 Mutia: "Mas, kalau saya pinjam 12.5 juta buat UKT, saya mesti nyicil berapa?"
📱 Mas Fintech: "Sekitar 1.3 juta per bulan selama setahun."
👩🎓 Mutia: "Wah jatuhnya 15.5 juta dong? Bunganya 3 juta sendiri?"
📱 Mas Fintech: "Iya Mbak."
👩🎓 Mutia: "Waduh, itu biaya hidup saya euy. Gak mampu bayarnya."
👩🎓 Mutia: "Pak TU kampus, gak bisa Pak, saya gak kuat bayarnya."
👨💼 Pak TU Kampus: "Kamu cuti dulu aja Mut. Kerja part time gitu."
👩🎓 Mutia: "Bisa ya Pak? Gimana prosedurnya?"
👨💼 Pak TU Kampus: "Kamu bayar 50% UKT, jadi 6.25 juta."
👩🎓 Mutia: "Hah?" 😨
👩🎓 Mutia: "Mas pinjol, kayanya saya terpaksa pinjem deh, gak ada jalan lain."
💸 Mas Pinjol: "Siap, ini saya transfer ya."
👩🎓 Mutia: "Kalau gagal bayar gitu gimana?"
💸 Mas Pinjol: "Ada dendanya sama nanti kecatat di BI Checking."
😎 Debt Collector: "Mutia, ini utangnya gak dibayar?"
👩🎓 Mutia: "Wah Pak Debt Collector, Bapak saya butuh bayar UKT buat Tugas Belajar S3 sama banyak perlu lain, gimana?"
😎 Debt Collector: "Gak bisa bayar sekarang?"
👩🎓 Mutia: "Iya, gimana?"
😎 Debt Collector: "Ya udah, ini dendanya saya catat ya, ini udah numpuk dari semester 3 sampai lulus."
🤵 Rekruter: "Ini CV kamu bagus banget, aktif di organisasi."
👩🎓 Mutia: "Iya, makasih Bu rekruter."
🤵 Rekruter: "IPK kamu juga bagus, skill set kamu juga sesuai sama yang dibutuhin user kita."
👩🎓 Mutia: "Terima kasih."
🤵 Rekruter: "Oke, kita finalisasi paperwork dulu ya sebelum offer."
📞 HRD Perusahaan X: "Halo, ini HRD perusahaan X, mohon maaf banget, setelah kita cek, BI checkingnya jelek. Kami gak bisa terima."
👩🎓 Mutia: "Tapi kan saya butuh kerjaan buat bayar utang UKT?"
📞 HRD Perusahaan X: "Iya tapi perusahaan kami aturannya begitu. Mungkin bisa diperbaiki dulu kreditnya."
👩🎓 Mutia: "Gimana saya bisa perbaiki kredit kalau saya gak ada penghasilan?" 😓
📞 HRD Perusahaan X: "Coba ke perusahaan lain."
📞 HRD Perusahaan Y: "Halo, ini HRD perusahaan Y, setelah kita cek, BI checkingnya jelek. Kami gak bisa terima."
👩🎓 Mutia: "Tapi kan saya butuh kerjaan buat bayar utang UKT?"
📞 HRD Perusahaan Y: "Iya tapi perusahaan kami aturannya begitu. Mungkin bisa diperbaiki dulu kreditnya."
👩🎓 Mutia: "Gimana saya bisa perbaiki kredit kalau saya gak ada penghasilan?"
📞 HRD Perusahaan Y: "Coba ke perusahaan lain."
📞 HRD Perusahaan Z: "Halo, ini HRD perusahaan Z, setelah kita cek, BI checkingnya jelek. Kami gak bisa terima."
👩🎓 Mutia: "Tapi kan saya butuh kerjaan buat bayar utang UKT?"
📞 HRD Perusahaan Z: "Iya tapi perusahaan kami aturannya begitu. Mungkin bisa diperbaiki dulu kreditnya."
👩🎓 Mutia: "Gimana saya bisa perbaiki kredit kalau saya gak ada penghasilan?"
📞 HRD Perusahaan Z: "Coba ke perusahaan lain."
👨🏫 Pak Harjo: "Mutia, kamu udah dapet kerja belum?"
👩🎓 Mutia: "Pak Harjo! Tumben nelpon saya? Makasih udah dibimbing skripsi Pak, saya belum dapet kerja."
👨🏫 Pak Harjo: "Saya lagi butuh orang buat kerja di lab, kamu sekalian S2 aja di sini."
👩🎓 Mutia: "Terus bayar UKT sama biaya hidupnya gimana Pak?"
👨🏫 Pak Harjo: "Ya kamu nanti sekalian bantu proyek saya, ada lah dikit-dikit."
👩🎓 Mutia: "Oh, boleh Pak."
👨🏫 Pak Harjo: "Nanti kalau udah lulus saya rekomendasikan jadi dosen sekalian."
👨🏫 Prof. Harjo: "Selamat Mutia, udah lulus S2!"
🎓 Mutia: "Terima kasih Prof. Harjo!"
👨🏫 Prof. Harjo: "Kamu jadi mau jadi dosen kan? Saya bisa tulis rekomendasi."
🎓 Mutia: "Ya Pak."
👩💼 Mbak Admin: "Bu Mutia, dipanggil ke ruangan Pak Dekan."
👩🏫 Bu Mutia: "Ada apa ya Mbak Admin?"
👩💼 Mbak Admin: "Ada yang mau diobrolin katanya."
👩🏫 Bu Mutia: "Jam berapa mbak?"
👩💼 Mbak Admin: "Jam 1, habis makan siang."
👨💼 Pak Dekan: "Ada apa Pak Dekan?"
👩🏫 Bu Mutia: "Bu Mutia kan udah 5 tahun jadi dosen di sini kan ya?"
👨💼 Pak Dekan: "Iya Pak."
👩🏫 Bu Mutia: "Udah Lektor juga kan ya? Tapi ijazah masih S2 ya?"
👨💼 Pak Dekan: "Iya Pak."
👩🏫 Bu Mutia: "Biar karir Bu Mutia lancar, kami minta untuk Tugas Belajar S3."
👨💼 Pak Dekan: "Wah, kalau nggak gimana Pak? Saya lagi banyak pengeluaran. Mana utang waktu S1 belum kebayar semua."
👩🏫 Bu Mutia: "Nanti karir Bu Mutia stuck di situ."
👨💼 Pak Dekan: "Oh gitu, oke Pak."
👩🏫 Bu Mutia: "Mbak Admin, kalau saya mau daftar S3 di univ sini aja, syaratnya apa aja?"
👩💼 Mbak Admin: "Kok gak ke luar negeri aja Bu?"
👩🏫 Bu Mutia: "Anak saya baru masuk kuliah, di jurusan sebelah, adiknya mau masuk SMA."
👩💼 Mbak Admin: "Wah udah gede."
👩🏫 Bu Mutia: "Iya, saya dulu nikah muda dan punya anak cepet."
👩💼 Mbak Admin: "Oh gitu, saya cek dulu ya syarat-syaratnya Bu, nanti saya hubungi."
👩💼 Mbak Admin: "Bu Mutia, syaratnya ini Bu: Ijazah sama Transkrip S1 dan S2, Hasil tes TPA, Hasil tes TOEFL, sama Proposal Penelitian."
👩🏫 Bu Mutia: "Tes TPA sama TOEFL saya udah kadaluarsa, harus tes lagi?"
👩💼 Mbak Admin: "Iya Bu. Oh ya, nanti juga ada tes lagi dari jurusan."
👩🏫 Bu Mutia: "Bentar, saya ngajar di jurusan Farmasi ini, punya beberapa paper di jurnal internasional di bidang ini juga, masih harus dites kemampuannya?"
👩💼 Mbak Admin: "Iya Bu, memang aturannya begitu."
👩🏫 Bu Mutia: "..." 😑
👩🏫 Bu Mutia: "Mbak Admin, ini saya udah dapat tes TPA dan TOEFL saya, ada reimburse-nya?"
👩💼 Mbak Admin: "Gak ada Bu."
👩🏫 Bu Mutia: "Hah? Kok gitu, bukannya ini saya melaksanakan tugas secara profesional? Kok jadi uang saya pribadi yang keluar?"
👩💼 Mbak Admin: "Memang aturannya begitu Bu."
👩🏫 Bu Mutia: "Uang pendaftaran ke universitas juga nggak ada reimburse-nya?"
👩💼 Mbak Admin: "Gak ada Bu."
👩🏫 Bu Mutia: "..."
👩🏫 Bu Mutia: "Pak Dekan, saya kan udah urus pendaftaran S3 ke sini, untuk biaya UKT per semesternya gimana?"
👨💼 Pak Dekan: "Sekitar 15 juta per semester Bu."
👩🏫 Bu Mutia: "Wah, saya gak kuat harus bayar segitu."
👨💼 Pak Dekan: "Bu Mutia cari beasiswa aja, ada LPDP atau BPI."
👩🏫 Bu Mutia: "Bentar, ini saya kan melaksanakan tugas secara profesional kan Pak? Atas perintah Fakultas?"
👨💼 Pak Dekan: "Iya Bu."
👩🏫 Bu Mutia: "Tapi saya disuruh cari pendanaan sendiri? Antara bayar sendiri atau beasiswa cari sendiri?"
👨💼 Pak Dekan: "Iya Bu. Memang begitu. Saya dulu juga gitu."
👩🏫 Bu Mutia: "..."
👩🏫 Bu Mutia: "Prof. Harjo, bisa jadi promotor S3 saya?"
👨🏫 Prof. Harjo: "Bisa Bu Mutia, tapi saya lagi minim funding beberapa semester ke depan. Hampir semua guru besar di fakultas kita lagi susah Bu."
👩🏫 Bu Mutia: "Oh gitu Prof, kalau tanpa funding, gimana?"
👨🏫 Prof. Harjo: "Bu Mutia harus biayain penelitian sendiri."
👩🏫 Bu Mutia: "Maksudnya?"
👨🏫 Prof. Harjo: "Beli mencit, reagen, bahan kimia, sama alat-alatnya secara mandiri Bu."
👩🏫 Bu Mutia: "Bentar, jadi selain harus bayar UKT, saya juga harus bayar penelitiannya?"
👨🏫 Prof. Harjo: "Iya Bu."
👩🏫 Bu Mutia: "Kan ini saya bertugas secara profesional kan Prof? Ada surat dari Fakultas loh saya disuruh Tugas Belajar, kok pakai uang pribadi?"
👨🏫 Prof. Harjo: "Saya dulu juga gitu Bu. Memang begitu."
👩🏫 Bu Mutia: "..."
👩💼 Mbak Admin: "Bu Mutia, ini ada surat dari lembaga beasiswa yang di-apply kemarin."
👩🏫 Bu Mutia: "Oh iya Mbak Admin, sudah ada pengumumannya?"
👩💼 Mbak Admin: "Iya Bu, ini ada suratnya dari LPDP sama BPI. Dibuka aja Bu."
👩🏫 Bu Mutia: "..." 📄
👩💼 Mbak Admin: "Kenapa Bu, kok sedih?"
👩🏫 Bu Mutia: "Dua-duanya nggak keterima Mbak, padahal saya juga PNS Dosen."
👩💼 Mbak Admin: "Waduh, jadi gimana Bu?"
👩🏫 Bu Mutia: "Terpaksa bayar UKT pakai uang pribadi."
👩💼 Mbak Admin: "..."
👩🏫 Bu Mutia: "Mbak Keuangan Fakultas, ini kok gaji saya tinggal gaji pokok PNS doang? Ini gaji pokoknya mana di bawah UMK pula."
💴 Mbak Keuangan: "Bentar saya cek ya Bu Mutia."
👩🏫 Bu Mutia: "Tolong ya mbak, itu semua tunjangan sama serdos jadi ilang semua, saya lagi perlu biayain anak-anak saya."
💴 Mbak Keuangan: "Bu Mutia mulai tugas belajar semester ini?"
👩🏫 Bu Mutia: "Iya Mbak."
💴 Mbak Keuangan: "Oh pantes, memang gitu aturannya Bu, selama tugas belajar yang diberikan hanya gaji pokok PNS."
👩🏫 Bu Mutia: "Hah, kok gitu? Saya kan mengerjakan tugas ini atas perintah Fakultas?"
💴 Mbak Keuangan: "Memang aturannya begitu Bu."
👩🏫 Bu Mutia: "..."
👩🏫 Bu Mutia: "Halo Pak TU Kampus jurusan sebelah? Ini kok anak saya dapat UKT maksimum?"
👨💼 Pak TU Sebelah: "Iya Bu, kan Ibu PNS."
👩🏫 Bu Mutia: "Gak bisa daftar KIPK gitu?"
👨💼 Pak TU Sebelah: "PNS gak bisa Bu. Pejabat dikbud bilang gitu kemarin."
👩🏫 Bu Mutia: "Tapi gaji saya tinggal gaji pokok doang karena Tugas Belajar. Jadi di bawah UMK."
👨💼 Pak TU Sebelah: "Wah, saya gak bisa bantu Bu. Memang aturannya begitu."
👩🏫 Bu Mutia: "..."
👩🏫 Bu Mutia: "Prof. Harjo, Alhamdulillah ini paper penelitian kita accepted di jurnal Q1."
👨🏫 Prof. Harjo: "Alhamdulillah. Ya udah, urus administrasinya ya."
👩🏫 Bu Mutia: "Saya harus bayar APC Prof."
👨🏫 Prof. Harjo: "Berapa?"
👩🏫 Bu Mutia: "USD 3000 Prof. Open Access berbayar. Kalau gak gitu, nunggu review aja bisa 1.5 tahun."
👨🏫 Prof. Harjo: "Waduh, hibah penelitian kita cuma sanggup bayar 10% dari itu."
👩🏫 Bu Mutia: "Sisanya gimana?"
👨🏫 Prof. Harjo: "Kamu bayar sendiri."
👩🏫 Bu Mutia: "Hah?" 😱
👨🏫 Prof. Harjo: "Memang begitu. Saya dulu juga gitu."
👩🏫 Bu Mutia: "..."
👩🏫 Bu Mutia: "Prof. Harjo, biar saya lulus, saya butuh berapa paper jurnal Q1?"
👨🏫 Prof. Harjo: "Perlu empat Bu Mutia. Baru satu yang kemarin kan ya?"
👩🏫 Bu Mutia: "Iya Prof."
👨🏫 Prof. Harjo: "Berarti yang tiga lagi sama kaya kemarin lagi? Biaya penelitian dan APC jurnal dari saya semua?"
👩🏫 Bu Mutia: "Iya, terpaksa begitu, kita lagi krisis funding."
👩🏫 Bu Mutia: "..."
👨🏫 Prof. Harjo: "Selamat ya Bu Mutia, sudah berhasil defense."
👩🏫 Bu Mutia: "Terima kasih atas bimbingannya selama ini Prof. Harjo."
👨🏫 Prof. Harjo: "Saya minta maaf gak bisa bantu banyak ya Bu Mutia."
👩🏫 Bu Mutia: "..."
👩🏫 Bu Mutia: "Pak Dekan, saya mau resign."
👨💼 Pak Dekan: "Hah, kan baru lulus S3 Bu?"
👩🏫 Bu Mutia: "Saya dapat offer di LN Pak, saya kelilit utang ratusan juta karena biayain penelitian, APC jurnal, kuliah anak pertama saya, sama sekolah adiknya."
👨💼 Pak Dekan: "Gak bisa Bu, kalau tugas belajar ada perjanjian harus mengabdi 2n+1."
👩🏫 Bu Mutia: "Maksudnya?"
👨💼 Pak Dekan: "Kan Bu Mutia kemarin Tugas Belajar 4 tahun, berarti harus tetap di sini selama 9 tahun ke depan."
👩🏫 Bu Mutia: "Hah?"
👩💼 Mbak Admin: "Bu Mutia, ini ada surat dari pusat."
👩🏫 Bu Mutia: "..."
👩💼 Mbak Admin: "Kenapa Bu?"
👩🏫 Bu Mutia: "Kok saya dapat hukuman disiplin sedang? Kan saya lulus S3 kemarin 4 tahun? Udah perpanjang dari yang harusnya 3 tahun."
👩💼 Mbak Admin: "Ijazah Ibu bulan apa keluarnya?"
👩🏫 Bu Mutia: "Oktober Mbak."
👩💼 Mbak Admin: "Waktu mulai S3 bulan apa?"
👩🏫 Bu Mutia: "Agustus Mbak."
👩💼 Mbak Admin: "Berarti Ibu itungannya lulus 4 tahun 2 bulan Bu, lebih dari batas waktu."
👩🏫 Bu Mutia: "Kan saya defense Juli? Sisanya cuma nunggu jadwal wisuda?"
👩💼 Mbak Admin: "Memang aturannya begitu Bu. Di Permendikbudnya ada Bu."
👩🏫 Bu Mutia: "..."
👩🏫 Bu Mutia: "Mbak Keuangan Fakultas, ini bener take home pay saya cuma segini?"
💴 Mbak Keuangan: "Bentar Bu saya cek."
👩🏫 Bu Mutia: "Kok gak jauh beda sama pas waktu saya tugas belajar?"
💴 Mbak Keuangan: "Ini potongan karena hukuman disiplin sedang Bu."
👩🏫 Bu Mutia: "Berapa lama bakal segitu?"
💴 Mbak Keuangan: "Setahun Bu. Aturannya memang begitu."
👩🏫 Bu Mutia: "..."
👩🏫 Bu Mutia: "Mbak Admin, saya mau mengajukan naik jadi Lektor Kepala, saya hitung kum saya sepertinya sudah cukup."
👩💼 Mbak Admin: "Ini formulirnya ya Bu, diisi selengkap-lengkapnya."
👩🏫 Bu Mutia: "Oke Mbak."
👩💼 Mbak Admin: "Bu Mutia, ini ada surat dari pusat. Permohonan naik jabatan fungsional jadi Lektor Kepalanya ditolak Bu."
👩🏫 Bu Mutia: "Hah, kok bisa?"
👩💼 Mbak Admin: "Ini ada empat jurnal internasional yang Ibu publikasikan selama S3."
👩🏫 Bu Mutia: "Masalahnya apa?"
👩💼 Mbak Admin: "Gak bisa dihitung Bu. Publikasi selama tugas belajar gak bisa dipakai."
👩🏫 Bu Mutia: "Berarti saya perlu penelitian dan publikasi empat jurnal internasional lagi dari awal, buat menggantikan kum dari itu semua?"
👩💼 Mbak Admin: "Iya Bu. Aturannya memang begitu."
👩🏫 Bu Mutia: "..."
👩🏫 Bu Mutia: "Mbak Admin Lembaga Penelitian Kampus, ada bukaan proposal riset gak? Saya gak kuat lagi kalau harus bayar pakai uang pribadi."
📝 Admin Riset: "Ini ada beberapa Bu, mungkin bisa dicoba."
👩🏫 Bu Mutia: "Bentar ya Mbak, saya baca-baca dulu."
(Beberapa saat kemudian)
👩🏫 Bu Mutia: "Mbak, ini principal investigator risetnya harus minimal Lektor Kepala atau Guru Besar?"
📝 Admin Riset: "Iya Bu."
👩🏫 Bu Mutia: "Jadi, untuk jadi Lektor Kepala saya butuh dana riset, dan untuk dapat dana riset saya perlu jadi Lektor Kepala?"
📝 Admin Riset: "Iya Bu. Aturan proposalnya memang begitu."
👩🏫 Bu Mutia: "..."
📝 Admin Riset: "Halo Bu Mutia, ini Admin Lembaga Penelitian Kampus."
👩🏫 Bu Mutia: "Oh ya, gimana Mbak?"
📝 Admin Riset: "Ini ada bukaan proposal yang gak ada minimal jabatan fungsionalnya Bu."
👩🏫 Bu Mutia: "Wah mantab, bentar ya saya baca-baca."
(Membaca)
👩🏫 Bu Mutia: "Mbak, ini memang gak boleh ada komponen honor penelitian? Sama sekali?"
📝 Admin Riset: "Iya Bu. Termasuk Ibu juga gak boleh menggaji tenaga Ibu sendiri selama riset, karena sudah termasuk di tupoksi Ibu sebagai dosen."
👩🏫 Bu Mutia: "Hah? Lalu honor peneliti juga gak bisa? Saya gak bisa bayar asisten mahasiswa saya dari hibah?"
📝 Admin Riset: "Gak bisa Bu, aturannya memang gitu."
👩🏫 Bu Mutia: "..."
👩🏫 Bu Mutia: "Prof. Harjo, saya mau konsultasi sebentar."
👨🏫 Prof. Harjo: "Ah, Bu Mutia, masuk Bu silakan."
👩🏫 Bu Mutia: "Dulu waktu Prof bimbing saya S2 kan bisa ada sedikit honor, gimana caranya Prof? Ini semua hibah penelitian gak ada yang bisa bayar saya dan mahasiswa."
👨🏫 Prof. Harjo: "Oh, gampang itu, saya dulu masukin komponen 'jasa konsultasi' ke pihak ketiga. Pihak ketiganya yang bayar Ibu dulu."
👩🏫 Bu Mutia: "Wow, kok saya gak kepikiran. Pihak ketiganya siapa Prof?"
👨🏫 Prof. Harjo: "PT. Riset Luar Biasa, punya istri saya, jadi saya gak perlu bayar fee pinjam nama."
👩🏫 Bu Mutia: "..."
👩🏫 Bu Mutia: "Halo, Bu Dewi, ini Mutia."
📞 Bu Dewi (Istri Harjo): "Mutia muridnya suami saya dulu?"
👩🏫 Bu Mutia: "Iya Bu, semoga sehat semua ya sekeluarga. Kalau saya mau pinjam nama PT. Riset Luar Biasa buat komponen jasa penelitian bisa Bu?"
📞 Bu Dewi: "Oh bisa banget, sebentar saya kirimkan ketentuan dan fee-nya."
👩🏫 Bu Mutia: "Ini total dana hibahnya kecil sih Bu, cuma 100 jutaan, soalnya buat dosen peneliti pemula."
📞 Bu Dewi: "Oh gitu, kamu masukin aja 'jasa konsultasi' ke kita 30 juta. Nanti kita potong 10 juta buat fee, yang 20 juta bebas kamu pakai buat honor asisten."
👩🏫 Bu Mutia: "Fee-nya 10 juta sendiri?"
📞 Bu Dewi: "Iya, aturan perusahaan kami memang begitu. Waktu suami saya minjem nama seniornya dulu dia juga gitu."
👩🏫 Bu Mutia: "..."
📝 Admin Riset: "Halo Bu Mutia, ini dari Admin Lembaga Penelitian Kampus."
👩🏫 Bu Mutia: "Oh ya, ada apa Mbak?"
📝 Admin Riset: "Mengingatkan minggu depan waktunya monitoring dan evaluasi perkembangan riset dari proposal Ibu yang kita terima kemarin."
👩🏫 Bu Mutia: "Hah? Kan dananya belum turun? Tim kami belum juga beli reagen dan alat, apalagi mulai risetnya."
📝 Admin Riset: "Biasanya yang lain udah nalangin dulu Bu pakai dana pribadi. Dana nanti turunnya tengah tahun."
👩🏫 Bu Mutia: "Tengah tahun? Sekarang aja udah April dan paper publikasinya harus udah terbit di Desember?"
📝 Admin Riset: "Iya Bu. Memang aturannya begitu."
👩🏫 Bu Mutia: "..."
👩🏫 Bu Mutia: "Bu Mutia, saya minta tolong boleh."
👨🏫 Prof. Harjo: "Minta tolong apa Prof. Harjo?"
👩🏫 Bu Mutia: "Ini minta review 2 paper ini, request dari 2 jurnal internasional tempat Bu Mutia publikasi pas S3 kemarin."
👨🏫 Prof. Harjo: "Oh, iya Prof. Ada honornya?"
👩🏫 Bu Mutia: "Gak ada. Dari jurnalnya memang gak ngasih honor buat review."
👨🏫 Prof. Harjo: "Jadi dari APC USD 2000 yang dibayar sama penulis kemarin itu, gak ada sepeser pun yang masuk ke reviewernya?"
👩🏫 Bu Mutia: "Iya, dianggap udah tupoksi akademisi. Memang gitu aturannya."
👨🏫 Prof. Harjo: "..."
📝 Admin Riset: "Bu Mutia, ini dari Lembaga Penelitian Kampus."
👩🏫 Bu Mutia: "Oh iya, gimana?"
📝 Admin Riset: "Mau menagih luaran paper Bu. Sekarang kan bulan Desember, jadi harus sudah terbit."
👩🏫 Bu Mutia: "Wah, saya masih belum dapat jawaban review dari jurnalnya, saya udah submit November kemarin."
📝 Admin Riset: "Berarti belum terbit ya Bu?"
👩🏫 Bu Mutia: "Belum."
📝 Admin Riset: "Wah, kalau begitu ini dari lembaga hibahnya ada sanksi Bu."
👩🏫 Bu Mutia: "Hah? Apa sanksinya?"
📝 Admin Riset: "Ibu di-blacklist dari mengajukan riset lewat hibah ini selama 5 tahun ke depan. Mohon maaf ya Bu, aturannya memang begitu."
👩🏫 Bu Mutia: "..."
👩🦳 Bu Mutia (Mamah): "Hamid! Kok pulang gak ngabar-ngabarin Nak? Tasya gak ikut?"
🙎♂️ Hamid (Anak): "Iya Mah, kan awal Ramadhan. Mau sekalian ziarah ke makam Papah. Tasya gak dapet cuti Mah, sama kan susah bawa Nana, masih 1 tahun."
👩🦳 Bu Mutia: "Oh gitu. Ya udah, masuk aja dulu, kan udah malem. Besok aja ziarahnya. Pas banget tadi Mamah tadi masak ayam goreng crispy."
🙎♂️ Hamid: "Ya Mah."
🙎♂️ Hamid: "Masakan Mamah gak berubah, tetep paling enak sedunia. Gimana mah kondisi kampus?"
👩🦳 Bu Mutia: "Ya gitu lah. Apa yang mau diharapkan? Udah capek Mamah juga."
🙎♂️ Hamid: "Kok gitu, kenapa Mah? Rasanya pembimbing Hamid dulu baik-baik aja."
👩🦳 Bu Mutia: "Pembimbing Hamid dulu siapa?"
🙎♂️ Hamid: "Prof. Tejo Mah."
👩🦳 Bu Mutia: "Prof. Tejo dari jurusan Teknik Lingkungan?"
🙎♂️ Hamid: "Ya kan Hamid emang kuliah di Teknik Lingkungan, Mamah gimana sih."
👩🦳 Bu Mutia: "Rasanya dia gak pernah dapet hibah riset, kok dia udah Prof aja. Terus berkecukupan bener hidupnya, gak kayak kita, utang sana sini."
🙎♂️ Hamid: "Oh itu, jadi gini cara dia Mah..."
(Hamid membisikkan sesuatu)
👩🦳 Bu Mutia: "..."
👩🦳 Bu Mutia: "..."
👩🦳 Bu Mutia: "Oh gitu?"
🙎♂️ Hamid: "Iya Mah."
👩🏫 Bu Mutia: "Mbak Admin Jurusan, jadwal kuliah saya semester ini bisa dibuat Senin sama Jumat doang?"
👩💼 Mbak Admin Jurusan: "Bisa Bu Mutia. Tapi bakal padat Senin sama Jumatnya."
👩🏫 Bu Mutia: "Gak apa, saya harus ngerjain konsultansi di perusahaan anak saya tiap Selasa sampai Kamis. Kalau gak gitu gak cukup penghasilan saya buat nutup utang."
👩💼 Mbak Admin Jurusan: "Di Jakarta Bu?"
👩🏫 Bu Mutia: "Iya, makanya gak bisa commuting, saya harus menginap di rumah anak saya."
👩💼 Mbak Admin Jurusan: "Absennya gimana Bu?"
👩🏫 Bu Mutia: "Kamu bisa 'atur'?"
👩💼 Mbak Admin Jurusan: "Oh, 'atur'? Kaya biasanya dosen lain ya Bu?"
👩🏫 Bu Mutia: "Iya."
👩💼 Mbak Admin Jurusan: "Siap. Aman Bu." 😉
👩🏫 Bu Mutia: "Halo, Dea?"
👩🎓 Dea (Asisten): "Ya Bu Mutia?"
👩🏫 Bu Mutia: "Beasiswa S2 kamu kan ada kewajiban asistensi, kamu isi kelas Topik Pilihan Farmasi saya Jumat besok ya, kerjaan saya di sini belum selesai."
👩🎓 Dea: "Siap Bu. Untuk bimbingan tesis Senin Ibu ada?"
👩🏫 Bu Mutia: "Belum tahu, kontak saya aja nanti."
👩🎓 Dea: "Ya Bu."
👯 Mahasiswa 1: "Ini kelas TPF kita yang ngisi emang Kak Dea terus? Gue jarang masuk, tapi sekalinya masuk kok Kak Dea lagi?"
👯 Mahasiswa 2: "Gak tahu nih, Bu Mutia cuma masuk pas pengenalan silabus aja. Sisanya Kak Dea."
👯 Mahasiswa 1: "Oh gitu, sibuk kayanya, jadi anggap aja dosen kita Bu Dea ya, asistennya Kak Mutia."
👯 Mahasiswa 2: "Iya, wkwkwk."
👩🏫 Bu Mutia: "Untuk UAS TPF kalian, buat makalah ya. Ini tugas individu ya, bukan kelompok. Ini formatnya."
👯 Mahasiswa: "Baik Bu Mutia. Untuk penilaiannya gimana Bu?"
👩🏫 Bu Mutia: "Kalau kalian sekedar nulis sampai selesai, nilainya C. Kalau berhasil sampai terbit di SINTA 6, C+. Terbit di SINTA 5, B-. SINTA 4, B. SINTA 3, B+, SINTA 2, A-. Yang paling tinggi SINTA 1, nilainya A."
👯 Mahasiswa: "Berarti harus terbit di jurnal nasional Bu?"
👩🏫 Bu Mutia: "Iya, cantumkan saja nama saya jadi corresponding author di belakang nama kalian. Biasanya reviewernya udah pada tahu nama saya, kemungkinan diterimanya besar."
👯 Mahasiswa: "Baik Bu."
👯 Mahasiswa 1: "Enak ya kuliah Bu Mutia."
👯 Mahasiswa 2: "Iya, tugasnya cuma 1 makalah doang, sisanya diceramahin asisten."
👯 Mahasiswa 1: "Recommended lah buat kuliah pilihan."
👯 Mahasiswa 2: "Pantes aja isinya 50-an mahasiswa terus, penuh."
👩💼 Mbak Admin: "Bu Mutia, ini ada surat dari pusat."
👩🏫 Bu Mutia: "Apa isinya?"
👩💼 Mbak Admin: "Penghargaan jurnal nasional terbanyak sekampus tahun ini."
👩🏫 Bu Mutia: "Oh, mantab. Lumayan juga dua semester ngajar TPF."
👩💼 Mbak Admin: "Apa hubungannya Bu?"
👩🏫 Bu Mutia: "Ada 2 semester kali 50 mahasiswa bikin makalah jurnal nasional, semua nyantumin nama saya."
👩💼 Mbak Admin: "..."
👩🏫 Bu Mutia: "Pastikan semester depan saya ngajar TPF lagi."
👩🎓 Dea (Asisten): "Halo, Bu Mutia, ini Dea."
👩🏫 Bu Mutia: "Kenapa Dea?"
👩🎓 Dea: "Ini honor asisten gak masuk dari jadwal yang seharusnya Bu."
👩🏫 Bu Mutia: "Oh, iya, biasanya memang telat 3 bulan."
👩🎓 Dea: "Honor asisten yang cuma 500 ribu per semester itu selalu telat Bu? Walaupun dari 15 pertemuan, 13 di antaranya saya yang ngajar?"
👩🏫 Bu Mutia: "Iya, memang begitu. Dari jaman saya mahasiswa dulu juga gitu."
👩🏫 Bu Mutia: "Erna, lu apa kabar?"
👩🏫 Erna (Teman di Malaysia): "Widih, tumben kontak gue Mut. Gimana nih?"
👩🏫 Bu Mutia: "Lu masih jadi dosen di Malaysia?"
👩🏫 Erna: "Masih lah, ogah gue balik, apalagi denger cerita elu. Di sini segalanya difasilitasi, mau APC jurnal puluhan juta juga dibayarin kampus."
👩🏫 Bu Mutia: "Wih, coba kampus gue kaya gitu ya."
👩🏫 Erna: "Lu bisa catut nama gue aja jadi co-author, entar gue reimburse-in ke kampus sini."
👩🏫 Bu Mutia: "Wah menarik, ya udah, eksekusi ya." 🤝
👩🎓 Puput (Alumni): "Puput, pembimbing lu dulu Bu Mutia bukan?"
👩🎓 Alumni Lain: "Iya, kenapa gitu?"
👩🎓 Puput: "Ini kok skripsi gue tiba-tiba terbit jadi jurnal internasional ya? Cuma diterjemahin ke bahasa Inggris. Datanya sama persis."
👩🎓 Alumni Lain: "Bagus dong, masalahnya apa?"
👩🎓 Puput: "Nama pertamanya Bu Mutia. Gue jadi nama kedua."
👩🎓 Alumni Lain: "Lah, kan emang gitu, gue dulu juga gitu."
👩🎓 Puput: "Temen kita yang lain gimana?"
👩🎓 Alumni Lain: "Si Fani bimbingannya Prof. Harjo juga gitu dulu."
👩🎓 Puput: "Oh, berarti normal ya."
👩🎓 Alumni Lain: "Kayanya sih gitu. Semua orang juga gitu."
👩🎓 Puput: "Iya sih, toh kita udah lulus ini, gak ngaruh juga."
👨🏫 Prof. Harjo: "Selamat Bu Mutia, dapet penghargaan lagi, jurnal internasional terbanyak."
👩🏫 Bu Mutia: "Makasih Prof. Harjo."
👨🏫 Prof. Harjo: "Kok bisa 12 jurnal internasional dalam setahun? Gila, fundingnya dari mana?"
👩🏫 Bu Mutia: "Saya bikin 4 systematic literature review, 4 survey paper, sama 3 review konsep Prof. Kan sama aja mau paper riset atau review, yang kampus tahu mah sama-sama Q1. Yang paper riset cuma 1, dari bimbingan saya, itu juga semua mahasiswanya yang danain."
👨🏫 Prof. Harjo: "Oh gitu, modal baca sama nulis doang ya."
👩🏫 Bu Mutia: "Iya, gak perlu keluar duit ratusan juta buat mencit, reagen, bahan kimia, sama alat."
👨🏫 Prof. Harjo: "Mantab, APC jurnalnya dari mana?"
👩🏫 Bu Mutia: "Ada co-author saya di Malaysia, dia bisa claim reimburse buat APC sampai ratusan juta, tinggal catut namanya."
👨🏫 Prof. Harjo: "Oh, mantab. Saya dulu juga gitu."
📞 Bu Dewi (Istri Harjo): "Halo, Mutia?"
👩🏫 Bu Mutia: "Oh Bu Dewi, ada apa ya?"
📞 Bu Dewi: "Ini kan awal tahun, waktunya ngajuin proposal hibah riset lagi, minat pinjam nama PT. Riset Luar Biasa?"
👩🏫 Bu Mutia: "Oh, nggak Bu. Saya udah punya sendiri Bu, punya si Hamid anak saya. Jadi saya gak perlu bayar fee peminjaman."
📞 Bu Dewi: "Oh gitu, kalau perlu lagi kontak saya ya."
👩🏫 Bu Mutia: "Siap Bu."
💴 Mbak Keuangan: "Selamat Prof. Mutia udah pengukuhan guru besar."
👩🏫 Prof. Mutia: "Makasih Mbak Keuangan Fakultas. Ini hasil dari publikasi jurnal nasional dan internasional rutin mbak. Cuma mau cek, ini Take Home Pay-nya memang bener segini?"
💴 Mbak Keuangan: "Iya Bu."
👩🏫 Prof. Mutia: "Besar sekali, beda banget sama saya beberapa tahun lalu."
💴 Mbak Keuangan: "Iya Bu, memang aturan penggajiannya begitu."
👩🏫 Prof. Mutia: "Jadi antara Guru Besar dan Dosen Muda itu selisihnya kaya langit dan bumi?"
💴 Mbak Keuangan: "Iya Bu, memang begitu aturan kampus kita."
👸 Bu Rektor: "Halo, Prof. Mutia, Pak Dekan kan mau pensiun, gantikan beliau ya semester depan. Cuma Prof yang memenuhi syarat di fakultas sana."
👩🏫 Prof. Mutia: "Oh baik Bu Rektor."
👸 Bu Rektor: "Nanti akan ada tunjangan struktural lagi di atas tunjangan guru besar."
👩🏫 Prof. Mutia: "Wah, terima kasih Bu. Memang beda sekali ya Bu jaman dosen muda sama sekarang."
👸 Bu Rektor: "Iya, saya dulu juga gitu."
👩🏫 Prof. Mutia (Dekan): "Mbak Admin, bisa panggil Bu Lala?"
👩💼 Mbak Admin: "Ada keperluan apa ya Bu Dekan?"
👩🏫 Prof. Mutia: "Ada yang mau saya obrolkan."
👩💼 Mbak Admin: "Jam berapa Bu?"
👩🏫 Prof. Mutia: "Jam 1, habis makan siang."
👩🏫 Bu Lala (Dosen Muda): "Ada apa Bu Dekan?"
👩🏫 Prof. Mutia: "Bu Lala kan udah 5 tahun jadi dosen di sini kan ya?"
👩🏫 Bu Lala: "Iya Bu."
👩🏫 Prof. Mutia: "Udah Lektor juga kan ya? Tapi ijazah masih S2 ya?"
👩🏫 Bu Lala: "Iya Bu."
👩🏫 Prof. Mutia: "Biar karir Bu Lala lancar, kami minta untuk Tugas Belajar S3."
👩🏫 Bu Lala: "Wah, kalau nggak gimana Bu? Saya lagi banyak pengeluaran. Mana utang waktu S1 belum kebayar semua."
👩🏫 Prof. Mutia: "Nanti karir Bu Lala stuck di situ."
👩🏫 Bu Lala: "Oh gitu, baik Bu."
👩🎓 Debi (Anak Mutia): "Mamah, Debi baru keterima nih di PTN favorit."
👩🏫 Prof. Mutia: "Waduhh, mama harus mulai Tugas Belajar nak."
👩🎓 Debi: "Kenapa gitu?"
👩🏫 Prof. Mutia: "Penghasilan mama tinggal gaji pokok doang. Semua tunjangan distop."
👩🎓 Debi: "Terus gimana Debi bayar UKT Mah?"
👩🏫 Prof. Mutia: "Coba kamu ke TU Kampus."
👨💼 Pak TU Kampus: "Gimana Debi?"
👩🎓 Debi: "Saya mau apply beasiswa, saya kesulitan bayar UKT."
👨💼 Pak TU Kampus: "Minta surat keterangan tidak mampu ke RT ya."
👩🎓 Debi: "Baik Pak."
Thank you for reading!


